Anak Ceroboh Perlu Terapi

Ceroboh atau clumsy merupakan gangguan yang disebut dispraksia. Dyspraxia tidak mudah atau sulit dan “ artinya bertindak atau melakukan. Dalam bahasa Indonesia, berasal dari kata “ dyspraxia dys” yang artinya praxis menjadi ” yang dispraksia, adalah gangguan otak yang kurang mampu memproses pesan secara benar, sehingga menyebabkan kurang mampu mengorganisasi suatu gerakan.

Baca juga : Kerja di Jerman

Nama lain dyspraxia adalah Development Coordination Disorder (DCD), Motor Learning Disability, dan Perceptuo-Motor Dysfunction. Secara awam, dikenal dengan nama Clumsy Child Syndrome. GANGGUAN MENGATUR GERAK Dispraksia berbeda dengan disleksia dimana seseorang mengalami kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Memang gejala yang ditampakkan dari masalah dispraksia “tumpang tindih” dengan kasus lain yang mirip, misalnya disleksia. Dispraksia juga berbeda dengan ADD (Attention Defi cit Disorder), ADHD (Attention Defi cit Hyperactivity Disorder) atau discalculia, yakni kesulitan menangkap konsep-konsep dalam matematika.

Dispraksia justru mencakup persoalan yang lebih luas dan bervariasi. Sekali lagi, dispraksia merupakan gangguan atau ketidakmatangan anak dalam mengorganisasi gerakan akibat kurang mampunya otak memproses informasi sehingga pesan-pesan tidak secara penuh atau benar ditransmisikan. Masalah dispraksia terjadi ketika otak mencoba memerintahkan untuk melaksanakan apa yang mesti dilakukan, namun sinyal perintah otak itu diacak sehingga otot tidak dapat membaca sinyal tersebut. Dispraksia mengakibatkan timbulnya kesulitan dalam berpikir, merencanakan, dan juga melakukan tugas-tugas motorik dan sensorik.

Dampaknya, si kecil mengalami kesulitan dalam melakukan halhal tertentu yang berkaitan dengan motorik halus dan kasar, misalnya menangkap bola, menggunakan gunting, dan juga dalam menggunakan peralatan makan, seperti sendok dan garpu. KETIDAKSEMPURNAAN OTAK Para ahli menduga, penyebab dispraksia adalah ketidaksempurnaan perkembangan neuron motor di otak, sehingga gagal membentuk suatu koneksi dan menyebabkan sinyal tidak sampai ke otak. Maka dari itu, anak gagal merespons sesuai permintaan.

Ada 3 jenis Dispraksia, yaitu: 1. Dispraksia oral, yaitu ketidakmampuan dalam menghasilkan gerakan mulut, seperti sulit mengunyah, menyebutkan huruf, mengeja, sukar bicara dan juga sulit berkata-kata. 2. Dispraksia verbal, yaitu ketidakmampuan dalam menghasilkan bunyi dan membentuk kata, misal, anak yang mengalami telat berbicara, kesulitan mengingat instruksi, menyalin tulisan dari papan tulis, dan juga tidak dapat menangkap konsep seperti atas, bawah, dalam, dan sebagainya.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *